Saya tidak sabar. Saya dan suami baru saja kembali dari pasar swalayan, dan saat kami membongkar belanjaan, saya panik mencari kantong berisi donat—tetapi tidak menemukannya. Setelah memeriksa struk belanja, saya melihat ternyata donat itu tidak terbeli. Dengan kesal saya berteriak, “Yang aku mau beli tadi cuma donat!” Lima belas menit kemudian, suami saya datang dan menyodorkan sekantong donat. Tanpa sepengetahuan saya, ia menembus jalanan penuh salju dan kembali ke toko demi memenuhi keinginan saya. Saya pun memeluknya erat, lalu dengan malu-malu berkata, “Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa demi memuaskan keinginanku!”
Seorang pria tua sedang berlari santai di jalanan kota New York ketika ia melihat sepasang sepatu kets usang di sebelah papan milik seorang gelandangan muda yang meminta bantuan. Saat mengetahui bahwa mereka berdua mengenakan ukuran sepatu yang sama, pria tua tadi melepas sepatunya—beserta kaus kakinya!—dan memberikannya kepada pemuda tersebut. Sebelum berjalan pulang tanpa alas kaki, ia berkata kepada gelandangan itu, “Hidupku sangat diberkati oleh Allah. Dia begitu baik kepadaku, jadi sekarang aku ingin memberkatimu juga.”
Semasa kecil, saya menyukai lagu himne lawas “Count Your Blessings” (Hitung Berkatmu, kppk 50) Lagu tersebut menguatkan mereka yang sedang diterjang “gelombang kehidupan” dan merasa “takut dan putus asa” untuk “hitung berkat satu per satu.” Bertahun-tahun kemudian, ketika suami saya, Alan, sedang patah semangat, ia sering meminta saya untuk menyanyikan lagu tersebut kepadanya. Saya kemudian mengajaknya untuk menghitung berkat-berkat yang sudah diterimanya. Dengan melakukannya, pikiran Alan dapat teralihkan dari pergumulan dan keragu-raguan, serta dipusatkan kembali kepada Allah dan hal-hal yang dapat disyukuri.
Tidak lama setelah kematian ayahnya yang mendadak, Aaron menghadiahi ibunya sebuah foto berukuran poster dalam bingkai, yang menampilkan puluhan benda yang merangkum kehidupan sang ayah—koleksi, foto-foto, bebatuan, buku-buku, karya seni, dan lainnya—masing-masing memiliki makna khusus di baliknya. Aaron menghabiskan waktu berhari-hari mengumpulkan dan menyusun barang-barang tersebut, lalu Rachel, saudara perempuannya, mengabadikan susunan itu dalam sebuah foto. Hadiah itu menjadi peringatan visual terhadap sang ayah, yang meski bergumul dengan masalah rendah diri dan kecanduan, tetapi tidak pernah lalai mengungkapkan kasihnya pada mereka. Foto itu juga menjadi kesaksian tentang keajaiban kasih dan kuasa penyembuhan Allah, yang memampukan sang ayah mengalahkan kecanduannya di penghujung masa hidupnya.
Dalam suatu retret gereja pada musim gugur, putra saya mengajak Jeff, pendeta kami, menapaki jalan setapak menuju suatu ruangan kapel di alam terbuka. Tiba-tiba, di sana mereka menemukan tabut perjanjian! Tentu saja, itu bukan tabut yang asli, melainkan replika berukuran sebenarnya dan bersalutkan emas. Tabut tersebut awalnya dibuat oleh suami saya beberapa tahun lalu, dengan dorongan dari Jeff, dan saat itu baru saja diselesaikan oleh putra saya sebagai kejutan baginya.
Dalam sebuah pertunjukan yang menyayat hati berjudul Pilgrim: The Musical, Leisa berdiri di depan area khusus untuk rekan Tuli dan, dengan menggunakan bahasa isyarat, ia secara ekspresif menerjemahkan pertunjukan tersebut. Pertunjukan musikal yang didasarkan dari buku The Pilgrim’s Progress karya John Bunyan tentang perjalanan iman seorang pria tersebut sangat mengharukan, begitu pula dengan cara Leisa membawakan penerjemahannya.
Elliot sangat bersemangat memberitakan tentang Yesus kepada orang lain. Selama seminggu mengajarkan Kitab 2 Timotius kepada para pemimpin gereja di sebuah negara di Asia Selatan, ia mengingatkan mereka pada pesan perpisahan Paulus kepada Timotius. Ia mendorong para pemimpin itu supaya tidak malu pada berita Injil, melainkan rela menanggung penderitaan dan penganiayaan yang disebabkan oleh Injil, sebagaimana yang dialami oleh Paulus (1:8-9). Beberapa hari kemudian, Elliot mengetahui bahwa penginjilan dan perpindahan agama menjadi Kristen telah dilarang di negara tersebut. Dengan rasa prihatin yang besar atas keberadaan para pemimpin gereja tadi, Elliot berdoa agar mereka dapat bertekun serta terus mengabarkan Injil dengan berani dan segera.
Saat sang ayah melemparkan tali pancing ke danau, Thomas yang berusia dua tahun meniru tindakan ayahnya dengan pancing mainannya sendiri. Kemudian, saat berdiri di tepian danau yang dangkal, Thomas juga mencoba meniru gaya ayahnya yang melemparkan ikan kembali ke air dengan mencelupkan pancingnya di dalam air dan “menangkap” rumput liar. Setiap kali selesai “menangkap”, Thomas mengangkat rumput liar untuk dikagumi oleh ayahnya sebelum melepaskannya kembali ke danau.
Kehidupan George Verwer berubah drastis ketika ia mempercayai Tuhan Yesus dalam kebaktian kebangunan rohani yang dilayani Billy Graham pada tahun 1957. Tidak lama setelah itu, ia memulai pelayanan Operation Mobilization (OM), dan pada tahun 1963, badan misi itu mengutus 2.000 misionaris ke benua Eropa. OM menjadi salah satu badan misi terbesar di abad ke-20 dengan mengutus ribuan misionaris setiap tahunnya. Ketika George meninggal pada tahun 2023, badan misi tersebut sudah memiliki lebih dari 3.000 misionaris dari 134 negara yang melayani di 147 negara, dan hampir 300 badan misi lainnya didirikan sebagai dampak dari pelayanan OM.